OMAH OMAH Library is located inside private residential owned by Architect Realrich Sjarief and Dentist Laurensia Yudith.

It is functioned as collection of archive and personal books. Reading Room Hours only by reservation on weekend (because the location is inside private residence), now is closed because of pandemic. Contact person :
+62 8161644022 (Vivi)

OMAH Library is a community which focuses on knowledge development of three way to achieve mastery in architecture by developing spirit, body and mind in develo

ping young generation. It is community of daily discussion, workshop, lecture, bridging architecture academic and profession. In OMAH, we have various kind discussions of architecture books in about 7 years (since august 2014), We've seek and nurture relationships with other people, organisations, universities to develop partnerships that move Architecture for the youngsters forward which establishes good practice and theory in Architecture.We loves books, loves meeting new people, loves to discuss with new people about architecture very much as a way to cultivate knowledge in developing our spirit, body, and mind. We think that we are an integral part of the architecture communities we serve. We love to seek and nurture relationships with other people, organizations, universities, firms to develop partnerships that move our indonesian communities forward to the lovely and creative community. Advisor :
Realrich Sjarief

Librarian :
Dimas Dwimukti
Hanifah Sausan
Satria Agung Permana

6 Maret 2026, kunjungan kali ini mempertemukan kami dengan  , seorang interior designer yang datang untuk mengalami ruan...
12/05/2026

6 Maret 2026, kunjungan kali ini mempertemukan kami dengan , seorang interior designer yang datang untuk mengalami ruang secara langsung di Guha.

Perjalanan berlangsung dengan tenang, memberi waktu bagi setiap sudut untuk diamati dan dirasakan. Dari hubungan ruang dengan alam, hingga detail detail kecil yang perlahan terungkap, experiencing ini menjadi proses membaca ruang secara utuh.

Ary melihat Guha sebagai tempat yang menghadirkan kehangatan sekaligus visi yang kuat. Baginya, setiap sudut memiliki cerita tersendiri, membentuk pengalaman yang tidak hanya unik tetapi juga memberi pembelajaran. Ia juga merasakan bagaimana keberadaan alam di sekitarnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan pengalaman ruang.

Dari pertemuan ini, kami kembali diingatkan bahwa ruang dapat berbicara melalui banyak cara, melalui suasana, detail, dan relasinya dengan lingkungan di sekitarnya.

Terima kasih kepada Ary Nugraha atas waktu dan kehadirannya di rumah kami. Semoga pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan yang terus berkembang.

Untuk teman teman yang ingin merasakan pengalaman ruang di Guha the Guild, dapat melakukan reservasi melalui link berikut: bit.ly/Visit_OMAHBookstore

Beberapa hari lalu, kami menerima kabar yang membawa duka. Bapak .hendrasto telah berpulang pada 5 Mei 2026.Kami semua, ...
11/05/2026

Beberapa hari lalu, kami menerima kabar yang membawa duka. Bapak .hendrasto telah berpulang pada 5 Mei 2026.

Kami semua, restless spirit di OMAH Library, turut berduka & merasa kehilangan atas sosok yang memberi banyak makna, bukan hanya sebagai arsitek, tetapi juga sebagai guru, panutan, dan seorang pembelajar yang setia pada prosesnya.

Ingatan kami kembali pada 4 Februari 2017, saat Pak Dicky berkunjung ke OMAH Library sebagai bagian dari Titik Awal Exhibition. Malam itu, beliau berbagi tentang perjalanan tugas akhirnya, Rekreasi Pantai dan Marina Pluit, sebuah eksplorasi yang berangkat dari ketertarikannya pada karya Santiago Calatrava.

Pak Dicky menyelesaikan studi di Universitas Indonesia pada 1988, dan menjadi peraih nilai A pertama sepanjang sejarah jurusan arsitektur UI. Tugas akhir tersebut membawanya ke dunia praktik profesional—mulai dari bekerja sebagai interior designer di Hoemar Tjokrodiatmo, hingga kemudian berkarya bersama DCM sebagai Associate Director.

Melalui tugas akhirnya, ia mengeksplorasi bentuk, struktur, dan detail dengan sangat mendalam—menggunakan konstruksi baja & atap membran yang menyerupai layar kapal. Pada masanya, pendekatan tersebut terbilang kontroversial. Namun, justru dari keberanian itulah banyak generasi setelahnya menemukan inspirasi.

Dalam proses merancang, Pak Dicky percaya pada graphic thinking. Gagasan-gagasan awal hadir sebagai fragmen di dalam pikiran, lalu diproses melalui sketsa hingga perlahan menjadi lebih jelas & realistis.

Ary Indra pernah bercerita bagaimana ia berhenti pada satu halaman berisi gambar karya Pak Dicky di sebuah buku AMI. “Gila ini gambar kok bisa bagus banget,” kenangnya. Gambar itu ia simpan bertahun-tahun, hingga akhirnya mereka berdiri di satu panggung yang sama.

Melalui cerita, karya, dan pendekatannya, Pak Dicky meninggalkan jejak yang tidak hanya dapat dilihat, tetapi juga dirasakan dan dipelajari.

Terima kasih, Pak Dicky, untuk ketulusan dalam berbagi, keberanian dalam berkarya, dan proses yang telah Bapak hidupi. Semoga damai menyertai perjalanan Bapak.

Sumber: Titik Awal (OMAH Library, 2017)
Pewawancara: Yenni Khaliddazia, Gregorius Giovanni Gerard
Transkrip: Rio Sanjaya

1 Maret 2026, kunjungan kali ini diawali oleh dua orang yang datang lebih dulu, sementara satu lainnya menyusul. Tanpa d...
09/05/2026

1 Maret 2026, kunjungan kali ini diawali oleh dua orang yang datang lebih dulu, sementara satu lainnya menyusul. Tanpa disadari, yang datang belakangan ternyata sudah pernah berkunjung ke OMAH sebelumnya. Pertemuan kecil ini akhirnya menjadi perjalanan yang penuh rasa ingin tahu.

Sepanjang experiencing, mereka banyak mengajukan pertanyaan, terutama dari sisi arsitektural. Setiap ruang tidak hanya dilihat, tetapi juga dicoba untuk dipahami. Rasa penasaran itu membawa mereka menelusuri satu demi satu sudut, mencari hubungan antara bentuk, fungsi, dan pengalaman yang dirasakan.

Awalnya, mereka juga berencana melanjutkan perjalanan hingga ke Guha Sky setelah mengetahui adanya experiencing lanjutan. Namun waktu tidak cukup panjang hari itu, karena mereka sudah memiliki janji lain yang menunggu.

Syaukat melihat pengalaman ini sebagai perjalanan yang penuh kejutan, dengan berbagai momen yang memberi wow effect dan dipandu dengan hangat—sebuah pengalaman yang terasa akrab, seperti pulang ke rumah. Serra merasakan bagaimana setiap ruang memiliki rasa yang berbeda, namun tetap menghadirkan kenyamanan sekaligus membuka pengetahuan baru yang sebelumnya belum ia temui, dengan suasana yang perlahan menumbuhkan rasa seperti sedang berada di rumah sendiri.

Kesan dan pesan ini mengingatkan kami pada pemikiran Gaston Bachelard dalam The Poetics of Space—bahwa ruang yang benar-benar dialami bukan sekadar susunan geometris, melainkan tempat yang menyimpan rasa aman, kedekatan, dan kenangan. Sebuah ruang dapat terasa akrab bahkan pada pertemuan pertama, menghadirkan pengalaman yang sulit dijelaskan selain seperti pulang ke rumah.

Dari pertemuan ini, kami kembali melihat bagaimana rasa penasaran dapat membawa seseorang untuk terus melangkah lebih jauh. Bahkan ketika perjalanan belum selesai, selalu ada alasan untuk kembali.

Terima kasih kepada Syaukat, Serra, dan temannya atas waktu dan kehadirannya di rumah kami. Sampai bertemu kembali di perjalanan berikutnya.

Untuk teman teman yang ingin merasakan pengalaman ruang di Guha the Guild, dapat melakukan reservasi melalui link berikut: bit.ly/Visit_OMAHBookstore

Pada 29 Januari lalu, OMAH Library menerima donasi buku dari Kak Liany Sebastian, datang dengan cara sederhana, hampir t...
08/05/2026

Pada 29 Januari lalu, OMAH Library menerima donasi buku dari Kak Liany Sebastian, datang dengan cara sederhana, hampir tanpa kami sadari di tengah aktivitas hari itu. Kehadirannya membawa tambahan cerita baru untuk rak-rak literasi di OMAH, sekaligus menjadi pengingat bahwa kebaikan sering hadir dengan tenang, tanpa banyak suara.

Koleksi buku yang dibagikan cukup beragam, mulai dari novel fiksi dan nonfiksi, buku pengetahuan, kesehatan, hingga bacaan reflektif yang mengajak pembaca memahami diri dan kehidupan. Setiap buku membawa gagasan, sudut pandang, dan ruang perenungan yang berbeda. Buku-buku ini bukan sekadar kumpulan judul, melainkan bagian dari perjalanan yang pernah mengisi kesadaran, pemahaman, empati, serta proses bertumbuh dalam hidup Kak Liany.

Sebagaimana disampaikan Kak Liany, buku-buku ini dahulu diupayakan hadir untuk membangun dirinya — menemani proses belajar, bertanya, dan bertumbuh. Dengan kesadaran bahwa tidak ada yang kekal selain waktu, ia dengan tulus membagikannya agar dapat berguna bagi siapa saja, sebagaimana buku-buku tersebut pernah memberi makna dalam hidupnya. Kini, perjalanan itu berlanjut di ruang OMAH, menunggu untuk ditemukan dan dibaca oleh tangan-tangan baru.

Terima kasih atas kepercayaan dan ketulusan yang dibagikan. Semoga kebaikan ini kembali dalam bentuk berkat, kesehatan, kebahagiaan, dan sukacita. Semoga setiap halaman terus hidup, dibaca, dan memberi arti bagi para pembaca berikutnya di OMAH Library.

Halo teman-teman semua,Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series  #37. Episode ini akan terba...
08/05/2026

Halo teman-teman semua,
Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series #37. Episode ini akan terbagi dalam 2 bagian:

Paparan pertama bersama Pak dengan tema:
Joglo Petani: Jangkeping Urip

Berangkat dari fenomena di Desa Pondokrejo, Rembang, di mana rumah joglo tidak hanya bertahan, tetapi terus bertambah dari waktu ke waktu. Berbeda dengan kota yang menjadikan joglo simbol status, di desa ini joglo hadir sebagai bagian dari kehidupan petani sehari-hari.

Memiliki joglo menjadi klangenan—cita-cita hidup yang belum lengkap tanpa kehadirannya. Bahkan, membangun joglo menjadi bagian dari “sesrahan” pernikahan bagi anak perempuan.

Prosesnya bertahap, dari bentuk awal seperti bekuk lulang hingga menjadi joglo utuh. Nilai gotong royong masih kuat, bersama peran tukang joglo yang sarat pengetahuan dan makna.

Dari fenomena ini lahir gagasan Jangkeping Urip: Klangenan, Laras, Luwes, dan Lengkap—melihat joglo bukan sekadar bentuk, tetapi representasi kehidupan yang utuh dan berkelanjutan.

Bagian pertama bersama Pak , mengangkat tema:
Arsitektur Vernakular

Istilah vernacular mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1985, seiring beredarnya buku Architecture Without Architects dan House, Form and Culture. Sejak itu, arsitektur vernakular kerap disamakan dengan arsitektur tradisional—padahal keduanya tidak sepenuhnya sama.

Arsitektur tradisional lahir dari aturan rancang bangun yang diwariskan turun-temurun dengan pakem yang relatif tetap. Sementara arsitektur vernakular membuka ruang kreativitas, tidak selalu terikat aturan lama, tetapi berkembang melalui kebutuhan, konteks, dan interpretasi penggunanya.

Dalam praktiknya, karya vernakular bisa menyerupai bentuk yang kita kenal—seperti joglo—namun dengan penyimpangan: tanpa saka guru, tanpa tumpangsari, atau menggunakan ukuran metrik, bukan satuan antropometrik tradisional. Di sini, arsitektur menjadi ruang negosiasi antara ingatan, kebiasaan, dan kemungkinan baru yang terus bergerak.

Dua paparan ini akan dibahas dalam kelas PMI #37.

Jumat, 15 Mei 2026
Pukul 19.00 WIB
Online, Gratis
Pendaftaran: bit.ly/KELASOMAH_2026

Sampai jumpa di kelas PMI #37

Halo teman-teman semua,Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series  #37. Episode ini akan terba...
08/05/2026

Halo teman-teman semua,
Perjalanan Mengenal Indonesia (PMI) kembali berlanjut melalui series #37. Episode ini akan terbagi dalam 2 bagian:

Paparan pertama bersama Pak , dengan tema:
Joglo Petani: Jangkeping Urip

Berangkat dari fenomena di Desa Pondokrejo, Rembang, di mana rumah joglo tidak hanya bertahan, tetapi terus bertambah dari waktu ke waktu. Berbeda dengan kota yang menjadikan joglo simbol status, di desa ini joglo hadir sebagai bagian dari kehidupan petani sehari-hari.

Memiliki joglo menjadi klangenan—cita-cita hidup yang belum lengkap tanpa kehadirannya. Bahkan, membangun joglo menjadi bagian dari “sesrahan” pernikahan bagi anak perempuan.

Prosesnya bertahap, dari bentuk awal seperti bekuk lulang hingga menjadi joglo utuh. Nilai gotong royong masih kuat, bersama peran tukang joglo yang sarat pengetahuan dan makna.

Dari fenomena ini lahir gagasan Jangkeping Urip: Klangenan, Laras, Luwes, dan Lengkap—melihat joglo bukan sekadar bentuk, tetapi representasi kehidupan yang utuh dan berkelanjutan.

Bagian pertama bersama Pak mengangkat tema:
Arsitektur Vernakular

Istilah vernacular mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1985, seiring beredarnya buku Architecture Without Architects dan House, Form and Culture. Sejak itu, arsitektur vernakular kerap disamakan dengan arsitektur tradisional—padahal keduanya tidak sepenuhnya sama.

Arsitektur tradisional lahir dari aturan rancang bangun yang diwariskan turun-temurun dengan pakem yang relatif tetap. Sementara arsitektur vernakular membuka ruang kreativitas, tidak selalu terikat aturan lama, tetapi berkembang melalui kebutuhan, konteks, dan interpretasi penggunanya.

Dalam praktiknya, karya vernakular bisa menyerupai bentuk yang kita kenal—seperti joglo—namun dengan penyimpangan: tanpa saka guru, tanpa tumpangsari, atau menggunakan ukuran metrik, bukan satuan antropometrik tradisional. Di sini, arsitektur menjadi ruang negosiasi antara ingatan, kebiasaan, dan kemungkinan baru yang terus bergerak.

Dua paparan ini akan dibahas dalam kelas PMI #37.

Jumat, 15 Mei 2026
Pukul 19.00 WIB
Online, Gratis
Pendaftaran: bit.ly/KELASOMAH_2026

Sampai jumpa di kelas PMI #37

22 Februari 2026, kunjungan kali ini datang dari dua kelompok yang berbeda ada Kak Rendy & Kak Adhi serta rombongan Kak ...
07/05/2026

22 Februari 2026, kunjungan kali ini datang dari dua kelompok yang berbeda ada Kak Rendy & Kak Adhi serta rombongan Kak Freddy, Elisa dan Kak Hendry. Mereka hadir dengan rasa penasaran yang muncul setelah melihat sekilas tentang Guha. Dari rasa ingin tahu itu, langkah mereka akhirnya membawa mereka masuk, melihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruang ini.

Sepanjang experiencing, mereka banyak bertanya dan mengamati, sambil mengabadikan berbagai sudut yang menarik perhatian. Setiap orang membaca ruang dengan caranya masing masing.

Hendry melihat pengalaman ini sebagai sesuatu yang membuka pandangan, terutama pada konsep rumah yang jarang ditemui di Indonesia. Elisa menangkap kompleksitas di baliknya, dari proses berpikir yang tidak sederhana hingga ruang-ruang tersembunyi yang terasa unik dan eco friendly. Rendy memaknai Guha sebagai ruang yang penuh cerita dan interaksi. Freddy menyoroti bagaimana setiap detail dipikirkan dengan matang, terutama dalam aliran udara
dan pencahayaan yang memberi kenyamanan. Sementara Adli melihatnya sebagai wujud pemikiran yang dalam, di mana ide tidak hanya berhenti di kepala tetapi hadir dalam ruang yang mungkin tidak selalu mudah dipahami, namun bisa dirasakan.

Dari pertemuan ini, kami kembali melihat bagaimana rasa penasaran bisa menjadi awal dari pemahaman. Ruang tidak selalu perlu dijelaskan sepenuhnya, terkadang cukup untuk dialami dan dinikmati perlahan.

Terima kasih untuk setiap langkah yang datang dan setiap pertanyaan yang dibawa ke dalam Guha. Semoga pengalaman singkat ini tetap meninggalkan jejak yang berarti.

Untuk teman teman yang ingin merasakan pengalaman ruang di Guha the Guild, dapat melakukan reservasi melalui link berikut: bit.ly/Visit_OMAHBookstore

Di berbagai karya yang beliau kerjakan—mulai dari bangunan, interior, hingga objek kerajinan—Pak Rudy Utomo  .utomo meli...
05/05/2026

Di berbagai karya yang beliau kerjakan—mulai dari bangunan, interior, hingga objek kerajinan—Pak Rudy Utomo .utomo melihat arsitektur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Pendekatannya berangkat dari kedekatan dengan ketukangan. Praktiknya tumbuh dari tangan—melalui proses membuat dan mengolah material.

Karyanya bergerak melalui kesederhanaan. Hal ini terlihat dalam berbagai proyek seperti Rumah Taman Giri Loka, Rumah Taman Graha, Rumah Vermont, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Rumah Modernland, Rumah Pondok Indah, rumah Balige, serta rumah tinggalnya seperti Rumah Walet dan Rumah Kepodang—yang lahir dari respon langsung terhadap kebutuhan dan konteks.

Dalam beberapa karyanya, bentuk dan ruang berkembang dari pembacaan fungsi dan simbol. Kolom yang dibuat sedikit miring terinspirasi dari bangunan di Forbidden City Beijing. Pendekatan serupa terlihat pada pengolahan dinding dan atap. Dinding yang dimiringkan mengingatkan pada rumah adat Batak di Balige, atap utama seperti pada Kantor Gubernur Sulawesi Tengah—mengambil inspirasi dari arsitektur tradisional Palu. Referensi lain seperti Angkor Wat, perwayangan, hingga figur-figur hewan hadir sebagai bagian dari cara ia menerjemahkan nilai ke dalam ruang.

Dalam karya objek dan pahatan, gagasan berkembang menjadi cerita. Sebuah kursi lahir dari pemikiran sederhana: ketika limbah dapat diolah menjadi sesuatu yang berguna. Figur kuda menjadi refleksi tentang berbagi dan pendidikan—didedikasikan untuk empat anak yang ia dukung hingga tumbuh menjadi tiga arsitek dan satu sarjana ekonomi. Karya lain berbicara figur gajah dipilih karena fleksibilitas bentuknya, sementara elemen seperti jendela dikembangkan dari kebutuhan sehari-hari, terinspirasi dari Angkor Wat di Kamboja.

Dalam Arsitek(tur) Mumpuni Episode 10, Pak Rudy Utomo akan berbagi perjalanan praktiknya—tentang bagaimana arsitektur dijalani sebagai proses yang dekat dengan kehidupan, dengan segala keterbatasan dan kemungkinan yang terus terbuka.

Mari simak bersama:
Kamis, 7 Mei 2026
Pukul 19.00–21.00 WIB
Online dan Offline

Daftar di: bit.ly/KELASOMAH_2025
Info: +62 21-2127-0549

OMAH Library menghadirkan Pak Rudy Utomo dalam seri Arsitek(tur) Mumpuni Episode 10—sebuah sesi yang tidak hanya membica...
01/05/2026

OMAH Library menghadirkan Pak Rudy Utomo dalam seri Arsitek(tur) Mumpuni Episode 10—sebuah sesi yang tidak hanya membicarakan arsitektur, tetapi juga perjalanan hidup yang membentuknya.

Perjalanannya tidak dimulai dari kemapanan. Ia pernah gagal masuk jurusan arsitektur di Universitas Parahyangan pada percobaan pertama. Namun, pengalaman itu justru menjadi titik untuk mencoba kembali. Sejak itu, jalannya tidak pernah benar-benar lurus.

Pak Rudy menjalani pendidikan arsitektur dengan cara yang tidak biasa—lebih banyak belajar dari praktik, bekerja di lapangan, dan menghadapi realitas hidup secara langsung. Arsitektur, baginya, bukan sesuatu yang pasti, melainkan cara untuk bertahan, memahami diri, dan terus bergerak.

Di tengah perjalanan, ia sempat menjauh dari arsitektur dan menekuni dunia kerajinan serta pemahatan. Dari proses yang sangat personal lahir ratusan karya—mulai dari lampu, pajangan, hingga elemen ruang. Praktiknya sederhana, berangkat dari relasi yang jujur antara manusia, material, dan kehidupan sehari-hari.

Meski jalannya berkelok, ia kembali menekuni arsitektur—bukan sebagai sesuatu yang harus dikejar, tetapi sebagai bagian dari diri yang tumbuh bersama pengalaman hidup. Praktiknya dekat dengan ketukangan: material tidak hanya dipilih, tetapi juga dipahami dan diolah secara langsung. Ia tidak mengejar bentuk spektakuler, tetapi merespons kebutuhan dengan cara yang sederhana dan jujur.

Melalui kisahnya, Pak Rudy mengajak kita melihat arsitektur dari sudut yang berbeda—bukan hanya sebagai disiplin formal, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup: penuh keraguan, keberanian, dan pilihan yang tidak selalu mudah. Tentang bagaimana seseorang tetap mencoba, bahkan ketika merasa belum siap, dan bagaimana proses itu menjadi cara mengenali diri. Sebuah langkah untuk membuktikan—kepada diri sendiri dan keluarga—bahwa belajar dan mencoba tidak pernah selesai, pada usia berapa pun.

Mari bergabung bersama kami pada:
Kamis, 7 Mei 2026
19.00–21.00 WIB
Online and Offline Class
Daftar: bit.ly/KELASOMAH_2025
Info: +62 21-2127-0549 (WA Chat)

belajardariproses homeofrestlessspirit

Beberapa waktu lalu, kami menyambut tiga teman kami, Kak Cathy, Kak Fati, dan Kak Yuni  untuk experiencing di Guha Bobot...
29/04/2026

Beberapa waktu lalu, kami menyambut tiga teman kami, Kak Cathy, Kak Fati, dan Kak Yuni untuk experiencing di Guha Boboto. Kunjungan ini menjadi pengalaman pertama mereka ke OMAH Library. Pilihan mereka jatuh pada Guha Boboto—karena menurut mereka, ada sesuatu yang unik dan berbeda, dari rasa itu tumbuh keinginan untuk melihat langsung cerita di balik ruang ini.

Sepanjang perjalanan, ketiganya menunjukkan antusiasme yang hangat. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, mulai dari penggunaan material, keberagaman koleksi buku, hingga cerita dan nilai di balik lahirnya Guha Boboto.

Mereka menyusuri ruang dengan perlahan—mengamati, membaca, dan merasakan suasana yang hadir. Ada ketertarikan pada bagaimana ruang ini terasa dekat dengan keseharian, sekaligus memberi pengalaman yang berbeda.

Di akhir experiencing, mereka membagikan kesan, menurut Kak Cathy ia merasakan suasana perpustakaan yang hangat dan nyaman, seperti berada di rumah nenek, tenang, cozy, dengan koleksi bacaan yang beragam serta staf yang ramah.

Kak Fati menyebutkan kunjungan ini menyenangkan, dengan arsitektur yang indah dan koleksi buku yang cukup lengkap, sekaligus memberikan masukan agar akses masuk lebih mudah terlihat serta adanya ruang ibadah.

Sementara, Kak Yuni merasakan pengalaman yang begitu membekas, dari keinginan memiliki rumah dengan material alami, hingga melihat bagaimana arsitektur yang ramah lingkungan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia juga menikmati suasana perpustakaan dan koleksi buku arsitektur yang membuka banyak pembelajaran.

Setelah sesi experiencing berakhir, mereka melanjutkan waktu dengan mengeksplor lebih jauh koleksi buku di Guha Boboto—seolah belum ingin meninggalkan suasana yang telah mereka rasakan.

Terima kasih Kak Cathy, Kak Fati, dan Kak Yuni atas kunjungan dan rasa ingin tahu yang dibagikan. Semoga setiap sudut yang dilihat dan setiap cerita yang dirasakan menjadi bagian dari perjalanan yang terus bertumbuh.

Untuk teman-teman yang ingin merasakan pengalaman ruang di Guha the Guild, dapat melakukan reservasi melalui link berikut: bit.ly/Visit_OMAHBookstore




Address

Omah Library Taman Villa Meruya Blok F 2
Tangerang
11620

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when OMAH posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to OMAH:

Share