09/08/2026
Sebagai anak laki-laki di keluarga, kami bersepakat dan berikrar bahwa sebelum "bendera" ayah/papa kami turun, "bendera" kami sudah harus diusahakan naik, apapun caranya, yang penting halal serta tak merugikan/zholim terhadap orang. Meski belum tegak dan berkibar-kibar tak apa, yang penting ada progress bahwa "bendera" itu sedang dinaikkan. Cepat atau lambat itu relatif dan subjektif, sesuai karakteristik waktu bagi Einstein. Laki-laki itu cari jalan, bukan cari alasan. Kami tak berharap hidup seperti di Game of Thrones, di mana satu istana kelabakan ketika Eddad (Ned) Stark turun takhta, sikut sana sikut sini untuk naik singgasana. Biar tembok pecah, gerbang sedikit rusak, atau bastion masih pendek, yang penting punya benteng dan bendera sendiri. Lagipula kalau hidup macam Game of Thrones, sudah tertebak orang akan mem-plot saya jadi apa, ya Tyrion Lannister lah. Saya sih ogah. Meskipun, Tyrion itu si paling kecil tapi juga si paling gesit/jitu.
Bukan bentuk jumawa, ini hanya semacam mantra atau doa untuk hidup yang penuh hukum rimba. Persis seperti doa/mantra yang diajarkan senior saya dulu ketika pertama kali menginjakkan kaki di FKG, bunyinya "Tuha muna aka opung inang tulang dohot nantulang FKG USU Horas, semoga para Jendral cepat tamat, murah rezeki, dan cepat dapat jodoh." Kalau dipikir-pikir, pintar juga senior-senior saya itu, mereka tahu bahwa doa orang terzholimi itu makbul. Bayangkan, ratusan orang dengan seragam dan pernak-pernik aneh di tubuhnya, 30-an orangnya berkepala botak datang ke kampus memisuh-misuh dengan keadaan tertekan, diminta doanya. Kaum tertindas diminta doanya (padahal mereka sendiri yang menindas). Ya makbul! Pantas saja senior-senior saya banyak yang sukses sekarang, Alhamdulillah.