14/07/2026
"Enak ya jadi dia" atau "Ya dia enaklah".
Sebuah ekspresi yang kadang kita tujukan ke orang. Sampai akhirnya saya sadar, yang kita lihat mungkin enaknya orang lain, tapi ngga tahu "ngga enak" yang dialaminya seperti apa.
Di sebuah lobby Hotel di Surabaya, medio 2025, saya duduk dengan dua orang teman saya. Berjumpa setelah sekian lama berjuang di kota masing-masing. Yang satu seorang residen, yang satu dentalpreneur. Mereka ngobrol, saya menyimak sambil mengambil potongan kue di atas meja. Teman saya yang residen bilang "Enaklah kau ya wak sekarang". Teman saya yang satunya jawab, "Ya kan ente ngga lihat ngga enaknya aku cuy. Kalian tidur, aku begadang mikirkan gimana bisnis ini jalan." Deg. Betul juga saya pikir.
Kita terkadang menyederhanakan hidup orang lain dengan mengatakan "Ya dia enak". Padahal kita tak pernah tahu "tak enaknya". Mungkin saja, di saat kita tidur, ia masih terbangun untuk berpikir atau menyusun strategi. Mungkin, di saat kita berfoya-foya, ia dengan disiplin menabung dan berinvestasi. Bisa jadi, saat kita bermalas-malasan, ia keluar lebih pagi, berusaha lebih keras untuk keluarganya. Di saat kita malas belajar, ia sibuk membaca buku-buku untuk mengupgrade dirinya, investasi leher ke atas. Kita tak pernah tahu mungkin saja ia ditekan, dimarah-marahi di tempat kerjanya, di saat kita memilih untuk bersantai. Atau kalau dalam aspek agamais, di saat kita tidur malam, mungkin saja ia menengadahkan tangan dengan tulus di sepertiga malam. Masihkah kita pantas mengucapkan "Enaklah jadi dia" ?
Dua subjek percakapan di atas ada di antara orang-orang pada foto ini. Rindu juga sama skuad ini.