06/07/2020
Selamat Pagi !!
Semoga kabar baik bagi kita semua.
Hanmi Dental telah hadir di Facebook. Di sini tim kami akan memberikan informasi seputar kesehatan gigi dan mulut. Kami berusaha untuk sesering mungkin memberikan postingan di halaman ini.
Support kami dengan ikuti, sukai, dan bagikan halaman ini.
Hari ini ada artikel seputar kesehatan gigi dan mulut pada BALITA.
Tahukah anda,
Prevalensi karies pada anak-anak balita di Indonesia adalah sekitar 90,05%.
Karena prevalensi tinggi tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup anak-anak serta memiliki potensi resiko karies gigi sulung yang tinggi, Karies pada balita ditandai dengan adanya lesi tanpa kavitas atau dengan kavitas. Kondisi karies dini pada usia BALITA disebut Early Childhood Caries atau ECC. Kondisi ini jelas merugikan anak.
Peran orang tua sangat penting dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak. Namun, orangtua kebanyakan membiarkan gigi anaknya yg sudah lubang. Meskipun anak mengeluh kesakitan, tak jarang orangtua tetap tak acuh. Orang tua tak jarang yang memaknai gigi sulung yang lubang atau sakit tidak perlu dirawat, yang mana menurut mereka pada akhirnya akan berganti sendiri, dan digantikan dengan gigi permanen. Sebenarnya pemahaman ini kurang tepat.
Bayangkan saja, kita sebagai orang dewasa, jika sakit gigi, terasa sangat mengganggu sampai mengganggu aktivitas bahkan sampai kesulitan tidur.
Jika anak yang merasakan, misal saat bermain, mereka mengeluh sakit, sehingga aktivitas merekapun juga terganggu. Ditambah 92,3% orangtua membiarkan anaknya mengonsumsi minuman manis atau susu pada malam hari hingga tertidur pulas dan 74% orangtua memberikan makanan manis pada anak, sehingga pola makan (diet) anak kurang teratur.
Ketika botol susu diberikan pada bayi saat sedang tidur, cairan minuman tersebut akan menggenang di sekitar gigi insisif rahang atas dan dapat menyebabkan perkembangan kerusakan struktur gigi yang parah dan cepat. American Academy of Pediatric Dentistry tidak merekomendasikan bayi mengonsumsi minuman saat tidur dengan botol dan pemberian ASI pada malam hari harus dihindari setelah gigi sulung pertama erupsi. Penggunaan botol susu harus dihentikan saat usia 12 hingga 14 bulan.
Selain paparan makanan atau minuman kariogenik, terdapat faktor host yang bisa memicu terjadinya karies. Faktor risiko host tersebut antara lain email pasca-erupsi yang imatur, adanya kerusakan email terutama hipoplasia, anatomi/ bentuk gigi, serta gigi susunan gigi yang berjejal / crowded.
Solusi pencegahan ECC ini adalah perhatian, pemahaman, serta pengetahuan orang tua dalam hal kebersihan dan kesehatan gigi, sehingga dapat membantu membersihkan dan membiasakan anak menjaga kesehatan gigi dan mulut. Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan sikat gigi 2 kali sehari, menggunakan dental floss, penggunaan fluoride, imunisasi gigi, dan mengunjungi dokter gigi setiap 6 bulan sekali, penting untuk mencegah gigi berluubangt. Apabila ECC sudah terlanjur parah, maka perlu dilakukan tindakan kuratif oleh dokter gigi.
Sutjipto Rahel Wahjuni, Herawati, Satiti Kuntari. Prevalensi early childhood caries dan severe early childhood caries pada anak prasekolah di Gunung Anyar Surabaya. Dental Journal Majalah Kedokteran Gigi FKG Universitas Airlangga 2014, 47 (4): p.187-189
Fajriani, Hendrastuty Handayani. Penatalaksanaan early childhood caries
Management of early childhood caries. Dentofasial J FKG Hasanudin 2011. 10(3): 179 - 182